Angkatan III Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Laporan Free Serial Workshop Online

 Angkatan III
Aktivasi Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Selasa – Jumat | 14-17 April 2020 

oleh: Badan PPSDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan PKMK FK – KMK UGM

Rabu, 15 April 2020


Badan PPSDM Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan FK- KMK (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan workshop secara daring dengan tema Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System (ICS). Workshop dilaksanakan dalam 4 tahap yaitu 1) HDP berbasis ICS; 2) komunikasi dalam ICS; 3) logistik dalam ICS; 4) kertas kerja dan diskusi. Pada pelatihan sesi pertama akan dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada 14 hingga 16 April 2020.

Materi hari ke – 2, 15 April 2020 tentang Hospital Disaster Plan berbasis Incident Command System disampaikan oleh dr Hendro Wartatmo dengan moderator Madelina Ariani SKM, MPH. Materi ini membahas tentang:  1) apakah yang dimaksud HDP; 2) ICS dalam HDP; 3) HICS dan MIMMS; 4) satgas COVID-19 di RS dan HDP serta  5)hal khusus HDP sehubungan dengan COVID-19 .

Sebelum materi dimulai disampaikan tentang hasil analisis dari tugas 1 Self-Assessment mengenai kapasitas sistem komando di RS berdasarkan Hospital Safety Index (HIS) dan gambaran HDP, dimana dari 32 RS peserta pelatihan ada 15 RS yang sudah mengirimkan tugasnya melalui email sampai pada pukul 15.00 WIB pada 14 April 2018. Tugas yang dikirimkan setelah pukul 15.00  WIB belum bisa dianalisis oleh narasumber dan fasilitator. Rumah Sakit yang sudah mengirimkan laporannya diantaranya adalah RSUD Kabupaten Bekasi, RSUD Waled Cirebon, RSUD Ambarawa Kabupaten Semarang, RSUD Mursid Indramayu, RS Awal Bros Batam, RSUD Dewi Sri Karawang, RSUD Tangerang, RSUD Kabupaten Sanggau, RSUD Sidoarjo, RSUD Kota Bogor, RSUD Kota Yogyakarta, RSUD Bendan Pekalongan, RSUD Kabupaten Jombang dan  RSUD Kota Depok. Dari hasil analisis diketahui bahwa sebagian besar RS termasuk siaga sedang berdasarkan HIS.

Dalam pemaparanny,a narasumber menyatakan bahwa tujuan utama dibuatnya Hospital Disaster Plan (HDP) adalah supaya rumah sakit pasca bencana tetap beroperasional dan kembali berfungsi normal, serta secara optimal pasien atau korban gempa bisa ditangani secara individu dan berkelanjutan. Adakalanya suatu perencanaan kebencanaan sudah disusun sesuai dengan jenis bencana bencana yang akan dihadapi, namun ternyata bencana yang dihadapi berbeda, oleh karena itu perlu HDP yang bisa merespon semua jenis bencana yang mempunyai sifat fleksibel, ringkas, komprehensif, compatible (bisa digunakan untuk segala macam bencana), mempunyai garis komando yang jelas, bisa beradaptasi, bersifat antisipasif, predictable, sederhana dan bisa terintegrasi dengan Regional Disaster Plan.

Incident Command System (ICS) adalah sistem yang meliputi petugas aturan, prosedur, fasilitas dan peralatan, berintegrasi dalam struktur organisasi yang dibuat untuk memperbaiki respon terhadap keadaan darurat dalam bentuk apapun. ICS dalam HDP harus mempunyai sifat yang fleksibel, dapat ditingkatkan atau diperluas serta mampu mengakomodir sumber daya manusia dari berbagai disiplin ilmu maupun instansi untuk bekerjasama secara efektif dan efisien dengan rumah sakit lain, dinas kesehatan, maupun Pemda. ICS juga memuat standar prosedur yang memungkinkan komunikasi berjalan lancar. Komandan dalam ICS adalah orang mampu memahami dan menghadapi masalah bencana, mempunyai tugas menghadapi bencana sampai bisa teratasi, atau digantikan orang lain yang lebih kompeten, atau sampai ditunjuk orang lain sebagai komandan.

Ada 2 struktur organisasi dalam penanganan bencana di rumah sakit  yang bisa dipadukan dengan  yaitu HICS dan MIMMS. HICS adalah Hospital Incident Commad System, sedangkan MIMMS adalah Major Incident Medical management and Support. keduanya mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah a) struktur organisasi ini mampu menghimpun semua sumber daya RS; b) bersifat flexible, scalable framework; c) mempunyai satu komando. Perbedaannya adalah di HICS mempunyai kekuatan membentuk jejaring (networking) sedangkan MIMMS strukturnya mempunyai urutan proses yang yang jelas.

Dalam menghadapi pandemi COVID-19, perlu ada satgas COVID-19. Satgas COVID-19 merupakan bagian dari Hospital Disaster Plan (HDP) tidak berdiri sendiri.  HDP bersifat umum, berisi program – program untuk semua jenis bahaya.  Didalam HDP harus ada rencana kegiatan yang spesific terhadap jeni s- jenis bencana seperti gempa bumi, banjir gunung meletus, kerusuhan massa, COVID-19  dan sebagainya.

Hal – hal yang perlu dilakukan dalam menghadapi pandemi COVID-19 antara lain adalah mempersiapkan/membentuk seksi operasional, seksi medis, menyiapkan ruang isolasi, menyiapkan APD, mekanisme triase dan level rujukan RS serta menyediakan data yang terintegrasi dan bersifat dinamis, terutama data mengenai pasien dan sarana penunjang serta membuat skenario dalam memprediksi perkembangan pandemi COVID-19.

Dalam paparan materi yang disampaikan oleh dr Hendro wartatmo, ada umpan balik yang disampaikan oleh peserta pelatihan diantaranya adalah:

  1. RSUD Bekasi, yang menyampaikan bahwa RSUD bekasi pada awalnya merupakan RS rujukan level 2, sehingga ketika menerima pasien PDP berat langsung dirujuk ke RS di Jakarta. Namun seiring perjalanan waktu dengan bertambahnya kasus, kemampuan SDM, kesiapan ruangan isolasi dan pemenuhan APD baik dari pusat dan pemda,  sekarang RSUD Bekasi sudah menjadi RS rujukan level 3.
  2. RSUD Kota Bogor, menyampaikan pada awalnya tidak tahu apa yang dimaksud dengan MIMMS dan HICS, apa perbedaan dan persamaannya serta apa hubungannya dengan HDP dan ICS. Namun setelah mendapat penjelasan narasumber menjadi lebih jelas. RSUD Kota Bogor juga menanyakan apakah satgas COVID-19 akan tetap dipertahankan jika pandemi sudah selesai? Narasumber memberikan jawaban bahwa satgas bisa dibubarkan jika bencana sudah selesai namun HDP tetap ada.
  3. RS Kota Tangerang pada awalnya tidak paham tentang maksud level RS dalam COVID-19 seperti RS tersier, RS sekunder dan RS primer, namun menjadi paham setelah mendapat paparan dari narasumber .

Ada diskusi tentang penggunaan CT Scan sebagai alat diagnosis COVID-19, yang dalam pembahasannya disampaikan bahwa bisa dipergunakan namun bukan sebagai gold standart.

  1. RSUD Karawang menanyakan tentang perbedaan MIMS dan HICS yang dijawab oleh narasumber bahwa MIMMS singkatan dari major Incident medical Support dan HICS adalah Hospital Incident Command System, keduanya merupakan sistem yang bisa dipilih salah satu oleh RS untuk dipadukan dengan Incident Command System (ICS).
  2. RS Unair Surabaya, menanyakan peran Persi dan Puskesmas dalam COVID-19. Dijelaskan oleh narasumber bahwa dalam struktur klaster kesehatan biasanya kepala dinas kesehatan sebagai kepala wilayah menjadi ketua didampingi oleh beberapa wakil diantara direktur RS, kepala Persi setempat dan kepala IDI setempat. Struktur seperti ini dipergunakan di Provinsi DIY. Menjawab peran puskesmas dalam COVID-19 adalah sebagai Triase atau layanan level 1 serta melakukan surveilans.
  3. RSUD Jombang, menanyakan tentang siapa yang biasanya ditunjuk sebagai komandan dan apa fungsi emergency operating center? Narasumber menjelaskan bahwa keputusan menentukan komandan biasanya ditetapkan oleh direktur, biasanya adalah kepada IGD atau dokter IGD atau perawat IGD sedangkan emergency operating center adalah kantor bagi komandan dan staf untuk mengendalikan tim, melakukan rapat dan pertemuan dengan staf. letaknya harus mudah dijangkau, ada alat komunikasi yang bisa dipergunakan 24 jam.

Sesi Materi ditutup oleh moderator dengan mengingatkan kepada semua peserta untuk menyelesaikan tugas hari ke 2 yang harus dikumpulkan sore ini untuk dibahas oleh narasumber dan fasilitator.

Materi dan Video Rekaman silahkan KLIK DISINI

Reporter: Tim Bencana (PKMK UGM)


VIDEO REKAMAN:

Categories Arsip Kegiatan Surge/Reportase Kegiatan/Surge Capacity

Post Author:

Forum Manajemen Covid-19

Infografis

Arsip Streaming

Open chat
Need help?
Powered by