Reportase Webinar Surge Capacity Level RS dan Daerah

PKMK FK – KMK UGM menyelengarakan webinar diskusi  tentang surge capacity di level rumah sakit dan daerah yang dilaksanakan pada 31 maret 2020. Prof Laksono  Trisnantoro membuka webinar dengan  menyampaikan bahwa FK – KMK UGM mendukung tenaga kesehatan di rumah sakit maupun di  lapangan untuk mengembangkan pengetahuan tentang COVID-19, manajemen dan kebencanaan. Bagaimana manajemen lonjakan pasien di sebuah daerah?.  Akan digelar serial webinar yang membahas surge hospital ini. Narasumber pada kesempatan kali ini, dr Darwito Suwito, Ni Luh Putu Andayani Mkes, dr Hendro Wartatmo dan dr Djoni Darmadjaja.

Putu sebagai peneliti PKMK FK – KMK UGM menyampaikan bahwa pada kesempatan hari ini  bagaimana skenario yang dibuat untuk menghadapi lonjakan pasien. Rumah sakit akan menyiapkan area khusus, ruang isolasi dan ruang ICU. Tenaga kesehatan juga harus disiapkan, memberikan hunian sementara untuk para tenaga kesehatan agar lebih aman. Juga pada pembiayaan untuk penanganan COVID-19. Situasi setiap negara berbeda, ada yang sudah mengalami lonjakan di awal, juga sebaliknya, respon tiap negara juga berbeda. Indonesia belum pernah mengalami pandemi, situasi ini berbeda dengan bencana alam. Dalam situasi pandemi, tim penolong bisa juga menjadi korban. Hal ini harus diantisipasi. Kasus COVID-19 di Indonesia terus bertambah, kebutuhan perencanaan harus diantisipasi. Dari data yang ada bisa menjadi dasar untuk skenario surge capacity. Hasil modeling berdasarkan Bapennas puncak COVID-19 terjadi pada hari ke – 56 atau 63. Intervensi dari pemerintah dan masyarakat berpengaruh terhadap penurunan kasus COVID-19 di Indonesia. Kapasitas pelayanan di Indonesia harus diperhitungkan, lonjakan ringan, sedang atau berat. Perencanaan skenario akan membatu ketidakpastian yang akan terjadi. Rencana skenario dapat dipergunakan untuk menaksir peluang tersebut. Skenario untuk DIY, Skenario Optimis, Skenario untuk eksalasi menengah, dan Skenario terburuk.

Dr Darwito mengemukakan bahwa skenario sudah dibicarakan, skenario optimis, terjadi penurunan infeksi COVID-19, cukup dengan kondisi yang sekarang. Skenario menengah, terjadi lonjakan namun tidak merepotkan. Perlu ruang ICU 5 kali lebih banyak dari yang sudah ada, rumah sakit  pemerintah siap menangani COVID-19. Skenario terburuk, masyarakat tidak mematuhi aturan social distancing, masyarakat tidak melaksanakan PHBS, dan sebagainya. Adanya budaya mudik meningkatkan risiko penyebaran COVID-19. Bagi yang sudah terlanjur mudik maka harus ada pendampingan pada desa – desa, bisa dilakukan oleh dokter, koas, relawan, maupun yang lainnya agar masyarakat teredukasi. DIY sudah melibatkan anggota TNI polri dalam pendisiplinan masyarakat untuk  tetap menerapkan social distancing. Ketegasan pemerintah DIY sudah dilakukan, tegas berbeda dengan kekerasan. Perlu adanya penanganan dari berbagai lini, pertama, screening orang dari daerah zona merah, pendataan dan anamnesis, jika terdapat tanda – tanda maka bisa diedukasi. Ada rumah sakit lapangan untuk screening untuk mendata mana yang boleh pulang, ada yang harus dirawat, mana yang diisolasi. Setelah screening harus dilacak. Kedua, jika ketemu yang sakit maka akan dirawat, diperiksa swab (RS untuk karantina). Ketiga, rumah sakit yang melakukan perawatan (rujukan akhir DIY) rencana RSUD Wates (yang lokasinya dekat bandara).

Narasumber ketiga dr Hendro, menyampaikan BNPB sudah memiliki peraturan Nomor 10 Tahun 2010, setiap kejadian bencana harus dibentuk sistem komando tanggap darurat. Hal yang paling penting menentukan pimpinannya, untuk formalnya dipimpin oleh wakil gubernur. Rumah sakit di bawah ARSSI keluhannya rumah sakit ada 3, 3 yang meminta data informasi tapi ketiganya menggunakan format dinas yang berbeda, yang meminta DINKES, PERSI & BPBD. Sebaiknya satu pintu, dr Hendro menegaskan bahwa leadership harus tegas, apakah perlu model otoriter? Karena sudah tidak relevan lagi semacam imbauan. Pola menyusun sistem komando sudah ada, karena itu sangat penting yaitu pembagian tugas, komunikasi, dan rencana darurat.

dr Djoni, Penerapan skenario  mestinya tajam, 2 variabel yaitu kualitatif (kepatuhan masyarakat) dan kuantitatif (rate, jumlah kasus, jumlah kunjungan RS). Setelah itu baru ada skenario lanjutan, skenario A, B dan C.  Pola budaya dibuat gradasi. Skenario penting untuk dipertajam, nanti skenario A gimana? B Gimana? C Gimana? DIY belum tentu sekarang pada kondisi skenario C, karena skenario tersebut mungkin sudah chaos dan melibatkan SDM yang tambahan lain misal residen dan lainnya.

Ada teori untuk menentukan model intervensi, mungkin perlu melibatkan ahli epidemologis, dan kapan puncaknya. Sehingga kita bisa bersiap – siap, dan pada level mana yang akan dikerjakan. Sudah banyak referenesi yang dikumpulkan, di berbagai negara sudah ada skenario puncak dan dampak ekonomi setelah puncak. Saat ini apabila tidak tegas maka akan melonjak kasusnya, terjadi kerumunan juga yang lainnya. TNI Polri harus tegas membubarkan kerumunan. Pihak yang menentukan plan A, B, C adalah gubernur juga  harus disinkronkan semua kekuatan yang ada. TNI, Polri, satpol PP juga bisa dikerahkan.

Semua orang bisa menuliskan skenario, namun mana yang paling akurat? Apakah Persi DIY akan mengembangkan skenario ini? Persi DIY tentu akan bergabung dalam penanganan skenario ini. Usulan  pembicara, dinas kesehatan, Persi, BPBD, dan PKMK sebagai pakar. Instansi tersebut mengusulkan kepada kepala daerah mengenai skenario yang akan dilakukan. DIY bisa menjadi model untuk skenario penanganan COVID-19.  Prof Laksono menyampaikan dalam kesepakatan ini harus ada penulis skenario, yang nanti akan diinisiasi oleh PERSI dan didukung UGM dan UMY.  Untuk metode teknis akan dibahas, dan menjadi tanggung jawab bersama. PERSI akan membawa hasil ke pemeriintah. Nanti keputusan Skenario A, B dan C akan kita kembalikan ke pemerintah. Aspek detil yang akan dibahas pada pekan ini bisa menjadi bahan untuk skenario yang akan susun, paling tidak draft akan sudah ada pada akhir pekan ini. Diharapkan model skenario di DIY bisa digunakan untuk daerah lain.


Materi

Galeri Foto Acara:

VIDEO REKAMAN

Categories Reportase Kegiatan

Post Author:

Forum Manajemen Covid-19

Infografis

Arsip Streaming

Open chat
Need help?
Powered by